Jika Anda bangun tidur setiap hari, aktivitas apa yang Anda lakukan? Sebagai seorang muslim, Anda pasti akan mendirikan salat Subuh terlebih dahulu. Setelah itu, Anda akan duduk santai membaca koran sambil menyeruput kopi hangat. Hmm…, kebiasaan lama tidak dapat dilupakan, sebatang rokok keretek dihisap sebagai pelengkap kehangatan di pagi hari. Lengkap sudah kebahagiaan Anda, bukan? Atau, sarapan nasi uduk sambil duduk berbincang santai dengan keluarga? Ataukah seperti kawan Anda yang super sibuk, makan roti isi daging atau keju di dalam mobil ditemani sang sopir sambil mendendangkan lagu-lagu nostalgia. Asyik, bukan?
Ada seorang kawan yang secara rutin setiap pagi bersarapan dengan soto gurih bersantan. Ada pula kawan yang setiap Minggu paginya bersarapan dengan soto, di luar hari libur lain. Atau mungkin Anda memiliki pola makan tertentu? Atau Anda termasuk golongan yang tidak memusingkan soal makanan? Kalau lapar tinggal makan tanpa pilih-pilih jenis makanan dan minuman, yang penting halal dan mengenyangkan. Tidak ada waktu. Kini zaman serba cepat. Siapa cepat dia dapat. Instan!
Benar, di era global ini, di era dunia tanpa batas, ketika satu negara dengan negara lainnya saling berinteraksi, sudah menjadi lumrah negara maju akan lebih mudah memberi pengaruh kepada negara yang belum maju atau sedang berkembang. Pengaruh politik, ekonomi, sosial-budaya, bahkan terhadap pola makan dan gaya hidup. Pengaruh ini akan semakin mudah dan cepat menjalar akibat semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama telekomunikasi atau lebih populer dengan sebutan IT (Information and Technology). Segala informasi mudah diakses sebagai konsekuensi kemajuan zaman. Tidak terkecuali Indonesia, dari negara agraris menjadi negara industri yang modern. Sebagai akibatnya, terjadi perubahan perilaku dan kebiasaan di tengah-tengah masyarakat.
Demikian pula dalam hal pola makan. Dari kota sampai di desa mengalami perubahan yang sangat drastis. Menjamurnya gerai-gerai makanan cepat saji atau fast food merupakan salah satu indikasinya. Kalau Anda ber-kunjung ke mal-mal, cobalah tengok menu yang paling banyak diminati. Tentulah makanan junk food. Tampak kawula muda—kalangan eksekutif maupun menengah ke bawah—tengah menyantap dengan lahap hidangan ter-sebut dengan sesekali menyeruput soft drink dingin yang baru keluar dari kulkas. Segaarrr… Ironisnya, kegemaran makan sayur-sayuran dan buah-buahan, berupa lalapan sebagai tradisi orangtua yang menyehatkan mulai pupus digerus oleh makanan bergengsi junk food yang di negara asalnya justru diberi label makanan sampah.
Lalu, ada yang mengatakan: jangan menjadi bangsa tempe? Suatu ungkapan yang sesungguhnya merendahkan martabat bangsa. Padahal, tempe ataupun tahu adalah makanan yang bernilai gizi tinggi yang justru di negara maju seperti Jepang mendapat perhatian khusus. Indonesia adalah negara yang kaya akan ikan, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Tetapi, mengapa penduduknya masih sedikit yang mengonsumsi ikan? Dan, tidak suka makan sayur-sayuran dan buah-buahan? Mengapa demikian?
Waktu dijadikan kambing hitam dan kendala. Budaya instan sebagai biangnya. Pada zaman serba cepat seperti sekarang ini, orang tidak mau lagi repot-repot untuk mengolah makanan yang bergizi lagi menyehatkan. Maukah Anda repot mengolah sayur-sayuran untuk menu Anda sehari-hari? Tentu saja sulit bagi pekerja super sibuk, apalagi saat berada di kantor. Menu yang paling praktis tentu saja junk food dan fast food. Tidak ada makanan alternatif untuk mengelak. Apa boleh buat, dengan lahap makanan berlemak dan berkalori tinggi tersebut harus Anda santap. Ayam goreng, kentang goreng, soto, bakso, sate, dan jenisnya. Tidak ada yang salah dengan semua jenis makanan tersebut. Namun, ada pola tersendiri agar Anda tidak terjebak dengan pola makan yang buruk tersebut.
Kurang bergerak, apalagi berolahraga kian membuat runyam masalah. Semua serba pasif. Budaya praktis telah melanda masyarakat kita. Saya pernah bersilaturahmi ke rumah salah sorang kawan. Oleh si kawan saya disuguhi segelas air mineral dalam kemasan. Bukan air mineral tersebut yang menjadi masalah, tetapi soal kepraktisan yang tidak memerlukan gerak. Orang tidak mau repot lagi membuat teh di dapur. Dari menyiapkan gelas, menuang teh dan gula, menyeduh air panas, mengaduk, lalu menghidangkan, terakhir mencuci gelas dan memindahkan ke tempat perabotan. Semua itu memerlukan gerak yang tentu saja dapat memberi efek positif terhadap tubuh. Gerakan-gerakan kecil dan enteng lebih baik daripada diam pasif.
Namun demikian, olahraga yang rutin walaupun sebentar lebih utama daripada sekadar gerakan-gerakan kecil. Ada perbedaan antara olahraga dengan gerak aktivitas, yakni dalam hal konsistensinya. Dalam berolahraga, tubuh bergerak terus-menerus dalam waktu tertentu tanpa berhenti. Sedangkan, gerak aktivitas ada kalanya berhenti. Selain itu, olahraga biasanya dilakukan dengan senang hati, sedang gerak aktivitas terkadang dilakukan dengan keterpaksaan. Olahraga yang paling baik dilakukan pada saat udara belum tercemar polusi. Kira-kira di waktu subuh atau usai salat Subuh. Semestinya umat Islam paling diuntungkan dalam hal ini. Tetapi, mengapa Anda lebih memilih untuk salat Subuh justru pada jam enam pagi?
Kalau kita menengok ke belakang, penyakit-penyakit kardiovaskular dan penyakit gangguan metabolik, seperti hipertensi, jantung koroner, stroke, kencing manis, asam urat, sampai kanker biasanya diderita oleh orang berusia lanjut. Namun, seiring kemajuan zaman kini penyakit-penyakit tersebut tidak lagi dimonopoli oleh mereka yang berusia lanjut, malah cenderung meningkat angka penderitanya pada usia muda atau usia produktif Seorang sejawat menangani penderita stroke pada seorang anak muda berusia dua puluh tujuh tahun. Lain kasus, seorang penderita stroke di usia empat puluh tahun yang berakhir dengan kematian. Sahabat saya, berusia empat puluh empat tahun telah menderita kencing manis dan hipertensi, dan sahabat lainnya di usia empat puluh tahun menderita asam urat berat sampai mengalami pembengkakan sehingga tidak dapat berjalan.
Jika dahulu ada rasa bangga apabila bertubuh gemuk karena dinilai makmur, kini hal itu justru merupakan momok yang menakutkan. Seseorang bahkan sampai rela mengeluarkan dana ekstra untuk mengikuti program pelangsingan. Oleh karena itu, pusat-pusat kebugaran dan pelangsingan tubuh pun bertumbuh subur bagai cendawan di musim hujan. Selain itu, obat-obat pelangsing tubuh pun menjadi marak di pasaran. Obesitas atau kegemukan merupakan faktor risiko timbulnya penyakit kardiovaskular dan penyakit gangguan metabolik. Seperti telah diketahui, generasi muda saat ini telah banyak yang mengalami gangguan obesitas akibat pola makan yang tidak sehat dan gaya hidup pasif. Akibatnya, berbagai penyakit mudah menyerang tubuh.
Tanpa disadari atau tidak, berbagai penyakit yang menyerang di usia muda akan memengaruhi sumber daya manusia Indonesia. Apabila di usia produktif telah diserang penyakit-penyakit yang berbahaya seperti stroke atau kanker, misalnya, maka secara langsung akan memengaruhi aktivitas kerja, waktu kerja yang terbuang, dan biaya yang tidak sedikit untuk perawatannya.
Sehat itu murah dan sakit itu mahal. Nah, Anda tinggal pilih, mau sehat atau sakit? Tergantung kemauan Anda! Tetapi tahukah Anda, ada seorang manusia yang tidak pernah sakit selama hidupnya? Siapakah beliau? Benar, beliau adalah junjungan kita, junjungan umat Islam, Muhammad Rasulullah saw. Seorang rasul penutup hingga akhir zaman. Benarkah Rasulullah tidak pernah sakit karena mukjizat beliau sebagai seorang rasul? Tanpa adanya ikhtiar dari beliau?
Sebagai manusia biasa, tentunya Rasulullah juga merasakan haus dan lapar. Beliau makan dan minum seperti manusia pada umumnya. Beliau makan jika merasa lapar dan minum bila merasa dahaga. Tetapi, beliau memiliki konsep yang sangat jitu dalam hal makan dan minum. Mengapa demikian? Dengan konsep tersebut, berbagai penyakit pun menjadi enggan untuk menyerang beliau.
Pada zaman sekarang, orang-orang mengklaim dirinya sebagai orang yang super sibuk. Sebenarnya, belum apa-apa apabila dibandingkan dengan kesibukan yang dihadapi oleh Rasulullah. Coba Anda bayangkan, betapa banyak kesibukan yang harus dihadapi Rasulullah sebagai seorang rasul, kepala negara, pedagang, panglima perang, sekaligus ahli strategi perang. Ingatlah di saat-saat beliau menghadapi serangan dari kaum kafir Quraisy, Yahudi, Munafikin, dan para Kabilah yang puluhan bahkan ratusan ribu jumlahnya. Dan, tidak ketinggalan peran beliau sebagai kepala rumah tangga. Meskipun demikian, semuanya dapat teratasi. Beliau tetap selalu sehat dan tidak pernah sakit. Berbeda dengan orang pada masa sekarang ini yang dengan berbagai kesibukan yang dihadapinya menjadikan tubuh menjadi rentan diserang oleh berbagai jenis penyakit. Hal ini dikarenakan oleh pola makan yang tidak sehat dan tidak teratur, kurang istirahat, dan kurangnya gerak badan.
Hal menarik yang dipesankan oleh Rasulullah saw. adalah bahwa lambung adalah tempat bersarangnya penyakit. Maksudnya, dari lambunglah asal mulanya berbagai penyakit. Jika berhubungan dengan lambung, maka erat kaitannya dengan makanan dan minuman. Konsep ini telah terbukti benar secara medis modern. Telah banyak dijumpai berbagai jenis penyakit yang diakibatkan oleh makanan dan minuman yang diasup oleh tubuh. Dan, hebatnya Rasulullah memiliki pola makan yang memenuhi aspek-aspek kedokteran seperti keseimbangan asam-basa sebagai hal yang prinsip bila ditinjau dari aspek medis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar